Memahami Jejak Langkah Farmasi di Indonesia

Memahami Jejak Langkah Farmasi di Indonesia

Farmasi Indonesia telah mengalami perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan sejak masa pendudukan Belanda hingga era modern saat ini. Sebagai bagian integral dari sistem kesehatan, sejarah farmasi di Indonesia mencerminkan perkembangan bangsa dan tantangan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat.

Dengan memahami jejak langkah sejarah ini, kita dapat menghargai peran penting farmasi dalam membentuk dan memajukan bangsa.

Awal Mula Farmasi di Indonesia

Sekolah Chirurge

Pada tahun 1895, pemerintah Belanda mendirikan sekolah yang mengajarkan ilmu farmasi dan kedokteran yang dikenal sebagai sekolah Chirurge. Namun, akses terbatas hanya diberikan kepada orang Belanda dan Eurasia, membatasi kesempatan bagi orang Indonesia untuk mengejar pendidikan farmasi.

Sekolah Apoteker Batavia

Pada tahun 1917, langkah signifikan diambil dengan pendirian Sekolah Apoteker di Batavia (kini Jakarta). Inilah titik balik di mana orang Indonesia dan Eurasia mulai memiliki kesempatan untuk belajar ilmu farmasi, dengan syarat telah menyelesaikan pendidikan MULO.

Perkembangan Pesat: Era Pasca Kemerdekaan

Kelahiran PAFI dan Perguruan Tinggi Farmasi (1946)

Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, perkembangan farmasi mengalami lonjakan signifikan. PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) didirikan pada tahun 1946, disusul dengan pendirian Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten dan Sekolah Tinggi Farmasi di Bandung pada tahun 1947. Ini menandai langkah penting dalam memperkuat fondasi pendidikan farmasi di Indonesia.

Pembukaan Sekolah Asisten Apoteker Negeri (1950)

Pada tahun 1950, Indonesia membuka Sekolah Asisten Apoteker Negeri di Jakarta, memberikan peluang pendidikan selama 2 tahun bagi calon asisten apoteker. Sementara itu, jumlah apoteker terus bertambah baik dari lulusan dalam negeri maupun luar negeri.

Tantangan dan Kemajuan: Era 1958-1967

Peningkatan Tenaga Farmasi dan Produksi Obat Dalam Negeri

Periode antara tahun 1958 hingga 1967 menyaksikan perkembangan pesat dalam bidang farmasi di Indonesia. Jumlah tenaga farmasi, terutama apoteker dan asisten apoteker, semakin bertambah.

Selain itu, upaya untuk memproduksi obat dalam negeri juga mulai berkembang. Namun, kendala terkait bahan baku dan masalah ekonomi masih menjadi tantangan utama.

Keterbatasan Produksi Obat dalam Negeri

Meskipun industri obat dalam negeri tumbuh, keterbatasan bahan baku dan masalah devisa membuat produksi obat masih sulit. Hanya beberapa industri yang mampu menghasilkan obat sesuai kapasitas produksi, sementara yang lain bergantung pada impor bahan baku atau keterlibatan dengan pihak luar negeri.

Melalui perjalanan yang panjang ini, sejarah farmasi di Indonesia mencerminkan semangat dan ketahanan dalam menghadapi tantangan. Dengan memahami pembelajaran dari masa lalu, kita dapat mengidentifikasi peluang untuk terus memajukan bidang farmasi di Indonesia, memperkuat infrastruktur pendidikan, meningkatkan ketersediaan obat, dan meningkatkan peran farmasis dalam sistem kesehatan secara keseluruhan.

Sejarah farmasi di Indonesia adalah cerminan dari perjuangan dan perubahan yang telah terjadi sejak masa pendudukan Belanda hingga saat ini. Dari pembatasan akses pendidikan hingga upaya meningkatkan produksi obat dalam negeri, perjalanan ini mencerminkan semangat dan determinasi untuk memajukan kesehatan masyarakat Indonesia.

Dengan terus membangun pada fondasi yang ada dan mengatasi tantangan yang dihadapi, farmasi di Indonesia memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi kesejahteraan bangsa dan negara.

Ayo, jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari PAFI Bengkayang! Kunjungi situs mereka sekarang di https://pafibengkayang.org/ dan daftar sebagai anggota untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan dan program yang menarik. Bergabunglah sekarang juga dan raih pengalaman berharga serta kenalan baru dalam PAFI!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *